The Lobster, Film Distopian Mimpi Buruk Para Jomblo

4.thelobster

Kosongan – The Lobster (2015) merupakan salah satu film menarik yang rilis pada tahun 2015. Konsep ceritanya yang original sempat membuat film ini masuk dalam nominasi Oscar pada tahun 2017. Merupakan karya dari sutradara Yorgos Lanthimos, The Lobster merupakan film yang belum tentu bisa dinikmati oleh sebagian besar orang. Film ini memiliki nuansa yang suram dengan latar kota distopian fiksi yang absurd.

Bercerita tentang David (Colin Farrell), seorang pria yang baru saja bercerai dengan sang istri, karena istri mencintai laki-laki lain. Karena “kondisi” tersebut, David harus melakukan karantina di sebuah hotel. Banyak aturan dan pakemĀ dalam kota fiksi ini yang cukup absurd dan menarik untuk disaksikan. Latar dan jalan cerita yang disuguhkan juga sangat original dan bukan tipikal film yang akan pernah kamu tonton di masa lalu, tidak juga di masa depan. Jangan salah dengan kualitas akting para aktor dalam film ini karena memang The Lobster memiliki gaya dan standar akting yang sengajah dibuat datar.

Sebetulnya apa saja sih, yang membuat film ini menarik sekaligus merupakan mimpi buruk bagi para jomblo? Simak pemaparan tentang film distopian The Lobster satu ini.

Alasan The Lobster Adalah Mimpi Buruk Bagi Para Jomblo

1Jomblo dianggap sebagai penyakit jiwa.

Film ini berlatar di sebuah kota yang memiliki hukum yang tidak biasa. Orang jomblo atau tidak memiliki pasangan pada usia tertentu dianggap mengidap penyakit jiwa dan harus di karantina.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, jomblo dianggap kondisi yang memprihatinkan dan seringkali dijadikan bahan bercandaan. Lihat saja temanmu yang jomblo, mereka selalu mengeluh dan menjadi bahan bully. Film ini mengangkat konten tersebut menjadi kisah dark comedy yang akan mem-bully para jomblo pada level selanjutnya.

2Seorang jomblo harus menjalani karantina di sebuah pusat rehabilitasi.

Ketika David baru saja mengalami perceraian, petugas kota langsung membawa David ke lokasi rehabilitasi untuk segera menjalani karantina. Orang yang hidup sendiri atau tidak memiliki pasangan akan diasingkan dan tidak bisa menjalani hidup normal seperti pasangan lainnya. Kamu akan melihat pusat rehabilitasi yang sangat mirip dengan hotel, karena memang tempat tersebut dirancang untuk pusat penyembuhan, sekaligus tempat kencan para jomblo yang akhirnya menemukan pasangan.

3Seorang jomblo disamakan dengan hewan.

Yup, yang dimaksud dengan konten bully pada level selanjutnya adalah dengan menganggap para jomblo sebagai hewan. Bahkan secara harfiah dalam film distopian satu ini. Singgah di pusat rehabilitasi tidak berlaku selamanya, seorang jomblo hanya memiliki waktu selama 45 hari untuk menemukan pasangan. Jika tidak menemukan pasangan hingga waktu yang telah ditentukan, sang jomblo akan dirubah menjadi hewan secara harfiah.

Dan setiap orang bisa memilih ingin menjadi hewan apa. Pada umumnya, orang memilih untuk menjadi hewan rumahan agar bisa kembali ke keluarga mereka seperti kucing atau anjing. Dalam film ini, sang pemeran utama David ingin menjadi lobster.

4Mencari pasangan bukan usaha yang mudah.

Mungkin kamu berpikir, setiap pasien bisa saja langsung menjalin hubungan. Karena mereka pastinya memilih untuk menikah dengan siapa saja ketimbang menjadi hewan. Pusat rehabilitasi tidak membuat hal tersebut mudah bagi para pasiennya. Pasien yang hendak menjalin hubungan harus memiliki kesamaan tertentu. Misalnya, David memiliki rabun dekat, jadi ia harus menemukan perempuan yang memiliki rabun dekat. Atau hal lainnya yang bisa dicocokan.

Hal ini menyindir bagaimana beberapa kalangan memiliki standar yang “kaku” dalam mencari pasangan. Misalnya di Indonesia, beberapa etnis dan ras mengharuskan anaknya menikahi orang dari etnis yang sama. Ada pula yang mengharuskan seseorang menikah dengan orang dari derajat sosial yang sama. Padahal cinta sejati lebih dari sekedar etnis, ras, maupun status sosial seseorang.

5Berburu untuk tetap bertahan sebagai manusia.

Pasien masih memiliki harapan untuk tetap hidup sebagai manusia dengan berburu. Setiap beberapa hari, pihak rehabilitasi akan mengadakan waktu berburu di hutan dan memberikan para pasien senapan untuk memburu manusia yang ada di hutan. Jumlah buruan pasien akan memberikan tambahan hari untuk bertahan hingga waktu berburu berikutnya.

6Mencari pasangan menjadi usaha bertahan hidup.

Cinta adalah perasaan manusia yang paling kompleks karena semua emosi ada di dalamnya. Mencari pasangan seharusnya didasari oleh cinta. Namun dalam film distopian satu ini, mencari pasangan telah bergeser maknanya. Yaitu sebagai usaha bertahan hidup.

Sama halnya dalam kehidupan manusia, beberapa orang buru-buru menikah karena takut dengan batas usia. Belum lagi pandangan masyarakat tentang orang dalam usia tertentu yangĀ  belum menikah. Padahal mencari pasangan bukan hal yang seharusnya dipaksakan. Harus ada rasa cinta ketimbang sekedar rasa membutuhkan atau nafsu. Ini mengapa masih banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian.

7Sekte “jomblo selamanya” di hutan.

Dalam film ini, David akhirnya tidak kuat dengan sistem yang berlangsung di pusat rehabilitasi. Ia pun mendapat bantuan untuk kabur dan bergabung dengan kelompok manusia di hutan. Karena kabur dari pusat rehabilitasi, otomatis akan menjadikannya pasien buron di kota. Ia pun tak memiliki pilihan lain selain bergabung dengan kumpulan manusia di hutan. Namun, manusia di hutan memiliki peraturan yang tidak kalah keras, yaitu setiap orang harus hidup sendiri dan menjadi jomblo selamanya. Mereka bahkan harus menggali liang kuburnya sendiri.

Menjalin hubungan dengan anggota lain dalam perkumpulan merupakan larangan dengan konsekuensi serius. Namun dalam kisah ini, David akhirnya menemukan seseorang yang ia anggap adalah belahan jiwanya karena memiliki kesamaan tertentu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.