Kosongan – Selamat malam untuk semua sahabat Kosongan. Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan sedikit review terhadap anime yang bisa dikatakan sebagai anime yang cukup unik dan terkesan agak kurang yakni, Uchiage Hanabi , Shita kara Miru ka? Yoko kara Miru ka?.

Biar kalian tidak penasaran yuk ismak reviewnya berikut ini.


Judul Anime

JudulUchiage Hanabi, Shita kara Miru ka? Yoko kara Miru ka?
Jepang打ち上げ花火、下から見るか?横から見るか?
LainnyaMelihat Kembang Api dari Bawah atau dari Samping?

Detail

TipeMovie
StatusSelesai Tayang
Musim PerdanaSummer 2017
Tayang18 Agu 2017
Total Episode1
Durasi1 jam 30 menit
Rating
GenreDrama
StudioSHAFT
Lisensi
ProduserToho
Websiteuchiagehanabi.jp
Skor

PV


Sinopsis:

Musim panas kali ini, Shimada Norimichi (Suda Massaki) dan teman-temannya bertaruh apakah kembang api itu terlihat bulat atau datar jika dilihat dari samping. Mereka yang penasaranpun menyusun rencana untuk membuktikan teori mereka masing-masing pada kembang api di Festival Moshimo nanti.

Namun, ketika sudah ingin berkumpul bersama teman-temannya, Norimichi merasa bimbang tatkala teman sekelasnya yang tak lain adalah orang yang ia sukai, Oikawa Nazuna (Hirose Yuzu) mengajaknya untuk melarikan diri dari rumah bersama dirinya. Ketika banyak hal yang menghalangi jalan mereka untuk melarikan diri, sebuah bola aneh yang Nazuna temukan memberikan mereka kesempatan lain untuk tetap bersama.


Jalan Cerita:

Sebelum perilisannya, mungkin banyak dari kita yang berharap besar dengan film anime ini. Ekspektasi besar yang diperlihatkan pada trailernya dengan kualitas animasi serta soundtrack yang mumpuni harus kandas ketika menonton anime ini.

Ceritanya kurang bisa dinikmati, tidak jelas, seolah-olah hampir tak memiliki tujuan. Terlebih untuk ending, selain terlalu menggantung, kenapa konklusinya itu seperti ini? Kayak tidak ada hal lain yang dapat dijadikan akhir yang baik untuk ceritanya.

Akhir-nya ini juga membuat kisah perjuangan sang tokoh utama menjadi sia-sia, benar-benar gak bisa dinikmatin pake banget. Kami juga tak dapat berkata apa-apa lagi saking hancurnya cerita anime ini.

Tambah sedikit lagi, untuk tema time travel yang diangkat juga kurang dijelaskan lebih lanjut. Selain itu bola adalah bola yang sama yang pernah digunakan oleh ayah Nazuna, tidak dijelaskan lagi dari mana kemampuannya. Cara bola itu bekerja juga terasa masih agak kurang dijelaskan dengan baik.

Rasanya sulit untuk membicarakan sebuah film adaptasi tanpa melihat karya yang diadaptasi, namun akan lebih baik kalau kita melihat film ini sebagai sebuah individual yang tidak terikat dengan yang lain. .

Tak heran reputasi karya aslinya yang fenomenal bagi penonton film lawas membuat film animasi ini punya magnet (atau mungkin masalah) tersendiri. Sejumlah kritik dan ulasan pun juga mengaku bahwa film ini sulit untuk tidak dibandingkan karena faktor terkenalnya pun juga cukup melekat.

Tentu saja mereka tak semestinya membuat penonton bingung dengan memberikan suatu cerita tanpa penjelasan sama sekali. Bahkan setelah menonton ending-nya berkali-kali saya tetap masih tak mengerti.


Karakter:

Ketika berbicara “adaptasi”, tentunya banyak hal yang pasti direka ulang, baik desain karakter, adegan, maupun konsep yang ingin disampaikan. Secara keseluruhan, SHAFT mengambil konsep-konsep intinya, baik dari nama, desain karakter, dan inti-inti ceritanya.

Karena ini SHAFT, tentunya ada hal-hal ‘tak terduga’ yang mereka selipkan di antaranya, salah satunya konsep science fiction atau supernatural atau apa pun yang di luar hal nyata manusia. Hal ini yang sangat membedakan versi aslinya, karena Shunji Iwai tidak pernah menampilkan hal-hal berbau teknologi atau supernatural di dalamnya.

Ada pun karakter-karakter di versi animasi ditampilkan lebih dewasa dari seharusnya. Shunji Iwai memperkenalkan “Uchiage Hanabi” sebagai film kenangan masa kanak-kanak yang menjadikan anak SD sebagai karakter utamanya, sementara SHAFT membawa remaja SMP atau SMA sebagai tokoh utamanya.

Ada pun karakter-karakter di versi animasi ditampilkan lebih dewasa dari seharusnya. Shunji Iwai memperkenalkan “Uchiage Hanabi” sebagai film kenangan masa kanak-kanak yang menjadikan anak SD sebagai karakter utamanya, sementara SHAFT membawa remaja SMP atau SMA sebagai tokoh utamanya.

Interaksi dalam kelompok remaja ini pun juga menjadi terlihat aneh karena umumnya tidak banyak interaksi seperti itu terjadi.

Tentu saja hal itu menjadi hal yang sangat fatal. Dengan membiarkan dialog dari karakter terlihat seperti orang dewasa membuat orang berpikir ulang untuk menontonnya.


Art:

SHAFT dikenal sebagai studio animasi yang banyak bereksperimen dengan sinematografinya. Desain karakter, kombinasi warna yang simpel namun memukau, dan ramuan transisi ilustrasinya membuat studio ini memiliki ciri khas.

ak jarang banyak yang menikmati karya SHAFT karena gaya animasinya yang khas. “Uchiage Hanabi” pun juga mendapat perlakuan demikian. Seperti biasa, mereka menggabungkan animasi cel-shade 2D dengan campuran 3D computer-graphic pada bentuk-bentuk tertentu seperti air, kincir angin, kereta, dan benda-benda mati lainnya.

Film ini diawali dengan adegan simbolis seperti tenggelam dalam air, pemandangan kota dan sekolah yang bisu, serta lainnya, sesuatu yang SHAFT sering lakukan. Banyak pula adegan-adegan animasi diam yang dipakai untuk menjadi tempat karakter bertukar dialog dan pendapat yang menjadi “pemanis” bagi interaksi mereka.

Desain karakter “Uchiage Hanabi” pun juga tak luput dari tradisi SHAFT. Akio Watanabe selaku desainer karakter dari film ini merupakan veteran studio SHAFT melalui karya fenomenal studio ini seperti serial animasi “Monogatari”.

Tentu saja mereka memfokuskan anime terhadap kualitas art sehingga tak mengecewakan penonton. Tapi itu saja tak cukup membuat seri ini meraih skor tinggi.


Musik:

SHAFT dikenal sebagai studio yang banyak menggunakan suara untuk meningkatkan suasana untuk mendukung adegan diam di belakangnya. Makanya, tidak heran jika mereka cukup memprioritaskan faktor ini dalam produksi-produksi mereka.

Satoru Kosaki sebagai komposer musik SHAFT mengerjakan tugasnya di “Uchiage Hanabi” dengan baik. Berbeda dengan proyek-proyek SHAFT pada umumnya, beliau kali ini lebih banyak bermain dengan menggunakan full orchestra seperti yang ia pakai untuk proyek-proyek “megah” seperti Tekken, Star Driver, dan Captain Earth.

Jika mereka lebih memfokuskan musik pada bagian tertentu, bukan tidak mungkin anime ini akan booming?


Nah sahabat Kosongan itulah review untuk anime Uchiage Hanabi , Shita kara Miru ka? Yoko kara Miru ka?. Akhir kata sampai jumpa di artikel selanjutnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.