Review Film Hotel Transylvania 3 : Summer Vacation

reviewhoteltransylvania.2
Hotel Transylvania 3: Summer Vacation

KosonganHotel Transylvania 3 : Summer Vacation telah rilis sejak tanggal 13 Juli 2018 lalu dan masih tayang di bisokop-bioskop di Indonesia. Film animasi satu ini merupakan sekuel ketiganya. dari kisah Drac’s Pack yang selalu menyajikan gelak tawa dalam nuansa kegelapan dunia monster yang biasanya identik dengan hal menyeramkan.

Dalam minggu ini, film ini masih masuk 20 besar daftar Box Office dengan pendapatan sekitar 100 juta USD. Bagi kamu yang telah setia menonton film animasi satu ini, pastinya tidak asing dengan gaya cerita dan vibe khasnya. Dalam sekuel ketiganya, tampaknya sutradara, Genndy Tartakovsky hendak mengeksplorasi sejauh mana ia dapat mengembangkan latar maupun cerita dari animasi Hotel Transylvania.

Bagi kamu penikmat film yang mengutamakan refrensi sebelum menonton, ada baiknya kamu menyimak review film Hotel Transylvania 3 : Summer Vacation berikut ini.

Sinopsis Hotel Transylvania 3 : Summer Vacation

Setelah ratusan tahun menjalankan Hotel Transylvania, Drac (Adam Sandler) akhirnya merasa jenuh dan merasa kesepian. Meski tetap tinggal mersama putrinya Mavis, beserta suaminya dan anakanya, namun mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sebagai pemiliki hotel.

Mavis (Selena Gomez) pun menyadari sang ayah butuh istirahat dan liburan khusus hanya untuk keluar mereka. Mavis pun merancang liburan mewah ke sebuah kapar pesiar di Segita Bermuda yang akan melakukan pelayaran ke kota hilang, Atlantis.

Di luar dugaan, Drac jatuh cinta pada kapten kapal, Ericka (Kathryn Hahn) dan sekali lagi memberikan kesempatan pada dirinya untuk menjalin hubungan. Namun, Ericka menyimpan sebuah rencana jahat yang akan menghantar Drac bersama monster lainnya dalam bencana besar.

Review Film Hotel Transylvania 3 : Summer Vacation

Grafis dan Visual Animasi

reviewhoteltransylvania.5

 

Kalau soal produksi teknisnya, Sony Picture Animation telah berhasil membuat animasi dengan grafis dan teknik yang lembut. Pemilihan warna dan desain tiap adegannya sudah tepat dan cukup menghibur mata para penontonnya. Bisa dibilang lebih variatif dan megah dari kedua film sebelumnya.

Detail pada setiap objek dan desain latar besarnya pun sudah sangat halus dan unggul. Desain karakternya juga menarik seperti pada kedua film sebelumnya, Hotel Transylvania (2012) dan Hotel Transylvania 2 (2015). Beberapa karakter baru yang akan melengkapi jajaran karakter-karakter unik dalam animasi ini.

Desain Karakter

reviewhoteltransylvania.4

Selain desain karakter secara visual, penting pula memperhatikan desain karakter dalam hal kepribadiannya. Konsistensi kepribadian dalam sebuah karakter akan membuat sebuah cerita yang dibuat berkembang secara realistis dan berkualitas.

Pada dua seri sebelumnya, kita melihat sosok Drac sebagai ayah yang overprotective terhadap putrinya, begitu pula dengan sang cucu yang selalu ia manja. Drac digambarkan sebagai sosok yang lembut terhadap orang yang di cintainya, keluarganya, namun sangat menutup diri dengan hal luar meski akhirnya secara perlahan ia mulai terbuka dengan orang-orang asing, salah satunya menantunya sendiri, Jonathan (Andy Samberg).

Drac memang secara natural berkembang dari karakter dingin menjadi lebih lembut setelah anaknya menikah dan memiliki cucu. Namun dalam film ketiganya, Drac mengalami pengembangan karakter yang tampak dipaksakan hanya untuk melancarkan jalan cerita.

Ia dengan mudah jatuh cinta dengan Captain Ericka. Bahkan desain karakter Ericka juga tidak semempesona istri Drac yang hanya tampak sekilas pada film pertamanya. Di sini terjadi ketidak konsistenan tipe wanita idaman sang vampir. Ericka kurang mempesona secara keseluruhan sebagai perempuan yang bisa membuat Drac jatuh cinta tanpa alasan.

Peran Mavis sebagai pihak yang menyadari ada yang salah dengan Ericka pun kurang maksimal. Jika memang ingin membuat Mavis sebagai penengah yang membuat Drac dan Ericka, harusnya penulisan cerita digarap lebih matang lagi.

Alur Dan Pengembangan Cerita

reviewhoteltransylvania.3

Cerita mudah di tebak dan mulai kehilangan ciri khas lamanya. Bagi kamu pencinta Hotel Transylvania dengan suasana gothic dan kehidupan klasik ala vampir, kamu tidak akan menemukannya dalam film ini. Memilih latar sebuah kapal pesiar sepertinya tidk tereksekusi dengan baik. Bisa jadi karena nuansa yang di bawakan sudah tidak relevan lagi dengan judulnya, Hotel Transylvania.

Banyak pula potongan adegan kurang penting yang memakan waktu hingga 1 sampai 3 menit. Beberapa adegan tersebut kebanyakan adegan lucu yang sepertinya memang dikhususkan untuk mengundang tawa. Namun jadinya malah garing dan tidak menyatuh dengan cerita secara keseluruhan. Jika ingin menyelipkan humor, ada baiknya masih dalam alur cerita.

Banyaknya adegan tidak penting tersebut seharusnya bisa diisi oleh adegan-adegan yang lebih menonjolkan Mavis maupun beberapa karakter lain yang memiliki peran penting.

Beberapa refrensi humor yang diambil pun sudah kuno dan ketinggalan jaman. Bisa jadi terlalu lama untuk dipahami penonton anak-anak jaman sekarang, dan sudah tidak lucu lagi bagi para penonton dewasa.

Adegan klimaksnya pun terasa sedikit janggal dan kehilangan geregetnya pada bagian pertengahan konflik. Hal ini akan dirasakan penonton dan membuat para penonton secara seketika kehilangan hasrat untuk menonton.

Objektif ceritanya mungkin sudah cukup jelas, namun eksekusinya  tidak semulus dan serapi yang diduga.

reviewhoteltransylvania.1

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.