Review Film Cam (2018), Sisi Lain Internet Yang Mengerikan

review_film_cam

KosonganCam bisa jadi merupakan salah satu harta karun yang kamu temukan di Netflix tahun ini. Cam rilis pada tanggal 16 November lalu di Netflix dan menuai cukup banyak perhatian di kalangan penikmat film. Who doesn’t like kinky stuff? Film ini mengambil tema yang cukup mengundang penonton awam yang mungkin sedang mengharapkan film “panas”. Namun, jangan men-judge film dari temanya, Cam merupakan film psychological thriller di era modern yang akan membuat kamu bergidik.

Film satu ini memliki vibe yang sama dengan The Neon Demon (2016) namun ceritanya lebih padat dan menegangkan. Film ini juga recommended buat kamu yang menyukai Black Swan (2010) dan sedang mencari film yang serupa.

Film satu ini merupakan wujud modern dari film ala Afred Hitchcock dengan aura femme fatale era modern.

Teknologi merupakan makanan sehari-hari orang di jaman sekarang , dan mengangkat kisah yang berdasarkan teknologi terkini bisa membuat film memiliki nilai realistis yang akan menjangkau penonton masa kini. Film ini bisa menjadi tonton di masa depan seperti kita menoleh ke jaman dahulu dengan film-film seperti Pulp Fiction (1994) dan film-film ikonik lainnya.

Sebelum beranjak ke review film Cam, simak sinopsis berikut.


Sinopsis Film Cam (2018)

Lola a.ka. Alice (Madeline Brewer) adalah seorang camgirl yang memiliki channel dan acaranya sendiri di sebuah website streaming pornografi. Lola sangat berambisi dan ingin masuk dalam ranking top 50 agar bisa  terbuka dengan ibunya tentang pekerjaan yang sedang ia tekunin. Berbeda dengan camgirl pada umumnya, Lola lebih suka melakukan acaranya di tempat tinggalnya sendiri dan melakukan perencanaan show yang matang. Yang tidak sekedar memuaskan hasrat para penontonnya, namun juga menghibur dan membmbuat pengikutnya merasa lebih dekat dengannya.

Setelah nyaris masuk 50 besar dan disingkarkan oleh pesaingnya dengan cara yang licik, Lola menjadi impulsif dan melanggar prinsipnya sendiri dalam merancang acaranya. Ia melakukan show yang tidak pernah ingin ia lakukan dan melakukan perekaman di tempat lain.

Karir Lola sebagai camgirl tampak menjanjikan, hingga suatu pagi ia tidak bisa mengakses akunnya. Dan seorang gadis misterius yang nampak serupa dengannya mencuri acaranya, karir, hingga kehidupannya.


Review Film Cam (2018)

Alur Dan Pengembangan Cerita

review_film_cam_2

Cam menyuguhkan tema cerita yang masih jarang diangkat dalam film bergenre psychological thriller. Yaitu tentang kehidupan seorang camgirl di balik kamera streaming. Di era modern ini, bentuk pornografi tidak hanya dalam bentuk dvd dan video yang bisa diulang berkali-kali. Ada pula dunia streaming yang menawarkan konten di mana penikmatnya bisa lebih dekat dengan camgirl favorit mereka.

Tema ini sebetulnya sangat potensial karena memiliki nilai realistis yang cukup akurat dan hal ini ‘lah yang membuat film ini semakin mengerikan dana kan membuat  kamu jadi parno setelah menontonnya.

Adegan pembukaan dalam film ini bisa dibilang brilliant dan cukup membangkitkan ketegangan yang akan membuat kamu tidak meremehkan film ini. Seiring berjalannya cerita, alur yang disajikan juga runtut dan tidak akan terlalu membuatmu harus berpikir keras sebagai penonton.

Pikiranmu hanya akan dipermainkan dengan kisah bahwa ada seorang sosok misterius di lain sisi yang sedang mencuri “muka” pemeran utama. Dan premis ini akan membuat kamu tidak berhenti menonton karena rasa pensaran yang berhasil dibangun oleh sutradara film satu ini.

Tidak semua penonton puas dengan akhir dari film ini. Film diakhiri dengan cliff hanger yang akan membuat penonton awam meminta penjelasan lebih. But, overall, it’s a good movie with good storyline.

Kamu juga berkesempatan mengintip sisi “nakal” dari internet yang mungkin belum pernah kamu ketahui. Namun, tetap dengan porsi yang pas dan tidak terlalu vulgar.

Desain Karakter

review_film_cam

Kesuksesan film Cam tak lepas dari penampilan memukau dari Madelline Brewer sebagai Lola. Film ini bisa berubah menjadi zonk jika crew melalukan kesalahan dalam casting. Lola digambarkan sebagai karakter yang menyenangkan, ambisius dan berdedikasi dengan pekerjaannya meskipun hanya sebagai camgirl di sebuah situs pornografi.

Penampilan Lola dengan sett-nya yang imut dan dinominasi dengan warna merah mudah dan lampu neon juga akan memanjakan matamu saat menonton film ini. Kamu juga akan merasa simpati dan mendukung Lola dalam menemukan dalang dari orang yang mencuri mukanya karena she’s quite loveable. 

Lola juga memiliki pemikiran yang cukup cerdik dan tidak hanya tinggal diam dan menangis diujung kamar. Ia melakukan investigasi dan terus memantau gelagat “sosok” yang sedang mempermainkannya. Lola juga tidak senakal yang terlihat di balik kamera. So, kamu dijamin akan menyukai Lola dan mendukungnya dalam kisah ini.

Salah casting, penonton akan dengan buta men-judge bahwa film ini tidak bagus hanya karena sensi dengan pemeran utamanya. Hal itu sering terjadi dalam film dalam beberapa film.

Visual Dan Cinematografi

film_seperti_black_swan_3

Visual dan cinematografi film Cam cukup ikonik didominasi dengan warna-warna neon yang sesuai dengan tema film. Beberapa adegan menggunakan konsep web screen namun tetap didominasi dengan konsep cinematografi pada umumnya. Dengan beberapa teknik pengambilan gambar dan editing yang pas.

Cam berhasil membangun suasana thrilling yang akan membuat kamu agak merasa tidak nyaman karena memang film dirancang untuk membuat kamu merasa paranoid. Dan internet hacking adalah yang sangat mungkin terjadi bahwa pada level seekstrem yang ditampilkan pada film ini. So, you better watch out.