Moacyr Barbosa Nascimento, Kiper Brasil yang From Hero to Zero

Moacyr Barbosa Nascimento, Kiper Brasil yang From Hero to Zero
Moacyr Barbosa Nascimento, Kiper Brasil yang From Hero to Zero

Kosongan – Memang apes nasib Moacyr Barbosa Nascimento, kiper timnas Brasil di Piala Dunia 1950. Publik Brasil yang semula memujan ia, berbalik 180 derajat jadi membencinya. Prestasinya yang melimpah seakan tidak berarti apa-apa lantaran disalahkan atas kegagalan Brasil di final Piala Dunia 1950 kontra Uruguay di Estadio do Maracana. Berikut kisah pilunya…

Moacyr Barbosa Nascimento, Kiper Brasil yang From Hero to Zero

Awalnya di dekade 1940-an, Barbosa diakui merupakan salah satu kiper terbaik dunia. Barbosa mempersembahkan banyak gelar untuk klubnya, Vasco da Gama. Gelar-gelar tersebut antara lain Campeonato Sul-Americano de Campeones (1948), Campeonato Carioca (1945, 1947, 1949, 1950, 1952, dan 1958), hingga satu gelar Copa America untuk timnas Brasil di tahun 1949.

Bergelimang gelar, tidak aneh rasanya Barbosa menjadi harapan Brasil di perhelatan Piala Dunia pertama pasca-Perang Dunia II itu. Bertindak sebagai tuan rumah, Brasil tidak terkalahkan di babak penyisihan. Di partai puncak Brasil melawan peringkat kedua, Uruguay, di Estadio do Maracana.

Timnas Brasil hanya butuh hasil seri karena pada fase setelah penyisihan masih menggunakan format babak grup. Berada di peringkat teratas, Brasil hanya butuh satu poin untuk juara. Publik Brasil sudah yakin timnasnya akan juara, bahkan Wali Kota Rio de Janeiro malah sudah menyanjung timnas Brasil sebagai juara dunia.

Brasil awalnya unggul duluan di menit Ke-74 lewat gol yang dihasilkan Albino Friaca Cardoso. Namun, Uruguay menyamakan kedudukan di menit 66 lewat gol Juan Alberto Schiaffino. Publik Brasil yang awalnya sudah senang pun dibuat sedih ketika petaka datang di menit 79 tatkala Alcides Ghiggia memperdaya Ghiggia dari pinggir kotak penalti. Bola yang dikira hanya akan dilepaskan sebagai umpan, justru meluncur ke arah tiang dekat. Barbosa yang sudah bergerak keluar sudah mati langkah. Skor 2-1 untuk keunggulan Uruguay bertahan sampai wasit George Reader asal Inggris meniup peluit akhir.

Ratusan ribu penonton yang datang untuk mendukung Brasil langsung keluar stadion dengan tertunduk lesu, termasuk mereka yang berada di tribun kehormatan. Beberapa pendukung bahkan diketahui sampai bunuh diri karena tidak mampu menahan sedih. Publik Brazil mengenang kekalahan itu sebagai Maracanazo atau Bencana Maracana.

Saat Presiden FIFA Jules Rimet menyerahkan trofi Piala Dunia ke para pemain Uruguay, tak ada perayaan megah. Dalam bukunya, The Wonderful Story of World Cup, Rimet mengaku saat berjalan menuju lapangan, ia merasakan keheningan yang luar biasa. Rimet melanjutkan, bahkan para pemain Uruguay tidak mendapat pengawal kehormatan, tidak menyanyikan lagu kebangsaan dan bahkan tidak ada upacara perayaan pemenang.

Sementara itu pemain Uruguay, Schiaffino, punya kesan lain dalam mengenang momen itu. Menurutnya, ia juga merasa sedih melihat orang-orang Brasil menderita seperti itu, bahkan Schiaffino mengaku menangis lebih keras ketimbang orang Brasil. Meskipun begitu, sekembalinya Schiaffino dan kawan-kawan ke Uruguay, publik tetap merayakan kemenangan atas Brasils dengan berpesta pora.

Di Brasil, publik yang marah pun mencari kambing hitam. Barbosa yang bermain sebagai kiper pun apes karena dijadikan publik Brasil yang marah sebagai kambing hitam. Barbosa dijadikan musuh nomor satu, bahkan kebencian kepadanya sampai menyebar ke seantero negeri Brasil. Konon, para orang tua di Brasil bahkan menyamakannya dengan hantu dan menyebut nama Barbosa untuk menakut-nakuti anak-anak mereka jika susah diatur.

Barbosa sendiri mengaku tidak mengerti kenapa ia yang paling dijadikan kambing hitam. Menurut Barbosa, gol Ghiggia ke gawangnya bukanlah blunder kiper murni, melainkan memang berasal dari skema permainan dan kecerdasan Ghiggia dalam melakukan gerak tipu. Selain itu, jika ia dijadikan kambing hitam, maka seharusnya rekan-rekannya yang lain pun ikut dijadikan kambing hitam.

Karier Barbosa di timnas Brasil memang berakhir saat final melawan Uruguay waktu itu, namun ia baru benar-benar pensiun dari sepakbola di tahun 1963 pada usianya yang ke-42. Di tahun itu juga Barbosa dihadiahi gawang kayu yang digunakan di Stadion Maracana pada Piala Dunia 1950. Barbosa sendiri diketahui membawa pulang gawang itu dan membakarnya di halaman belakang rumah.

Hampir semua stakeholder sepakbola Brasil sejak itu tidak pernah mau dekat-dekat dengan Barbosa karena takut tertular nasib buruk. Jelang Piala Dunia 1994, Barbosa juga pernah dilarang hadir serta menyaksikan timnas Brasil latihan. Tidak hanya itu, Presiden CBF (PSSI-nya Brasil), Ricardo Teixeira, melarang Barbosa menjadi komentator untuk laga-laga timnas Brasil. Barbosa dikucilkan dari dunia sepakbola Brasil hingga hampir 40 tahun.

Setelah 50 tahun berlalu setelah tragedi Maracanazo, Barbosa akhirnya mengembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung pada tahun 2000 di Praia Grande. Setelah meninggal, Barbosa tidak lagi dibenci. Brasil sendiri sejak tragedi Maracanozo seolah tidak mau menggunakan jasa kiper berkulit hitam. Hal itu baru berubah sejak Piala Dunia 2002 ketika Nelson de Jesus Silva alias Dida menjadi kiper utama Brasil berkulit hitam pertama sejak tragedi Maracanazo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.