Fenomena Stockholm Syndrome: Ketika Tahanan Tertawan Hatinya

stockholmsyndrome
Beauty And The Beast (2017)

Kosongan – Pernah ‘kah kamu mendengar istilah stockholm syndrome? Fenomena stockholm syndrome terjadi ketika seorang korban sandera memiliki simpati kepada oknum jahat yang melakukan penahanan.

Istilah lain dari stocholm syndrome adalah capture bonding, dimana tawanan terminimalisir hubungan sosialnya dengan orang luar dan hanya menjalin komunikasi dengan penyanderanya. Hal ini membuat tawanan kehilangan akal sehat dengan cara yang sunyi. Kemudian menganggap bahwa menjalin hubungan dengan penyandranya adalah satu-satu kebutuhan sosial yang bisa ia dapatkan.

Kasus kriminal penyaderaan yang berakhir dengan korban terkena stockhlom syndrome termasuk langkah dan jalan terjadi. Menurut data FBI, hanya 8% dari seluruh kasus kriminal yang ditangani oleh FBI selama ini, berakhir dengan korban yang mengalami stockholm syndrome.

Asal Nama Stockholm Syndrome

stockholmbankrobery
Stockholm Bank Robery (1973)

Nama syndrome satu ini diambil dari fenomena stockholm syndrome yang pertama kali diabadikan dalam berbagai bentuk dokumen. Pada tahun 1973, terjadi perampokan bank di Bank Svergies Kreditbanken yang berlokasi di Stockholm, Swedia.

Seorang perampok bernama Jan-Erik Olsson melakukan perampokan dan menyandera 4 orang pegawai bank dalam sebuah brankas selama 6 hari. Mulai drai tanggal 23 Agustus hingga 28 Agustus 1973. Stelah melakuakn negosiasi, Olsson baru mau melepaskan tawanan jika polisi mengirimkan temannya, Clark Olofsson yang masih dipenjara untuk bergabung dengannya. Polisi pun segera memenuhi permintaan tersebut untuk menyelamatkan 4 tawanan.

Namun, setelah permintaan Olsson dikabulkan, 4 pegawai tersebut menolak untuk diselamatkan. Mereka justru takut keluar dari brankas dan ingin tetap di sana bersama Olsson.

Akhirnya polisi mendobrak paksa brankas tersebut dan memanggil seorang psikiater untuk menyelamatkan 4 pegawai tersebut. Setelah bebas pun, 4 pegawai tersebut menolak untuk bicara dan tidak ingin menuntut Olsson atas tindakannya.

Apa Stockholm Syndrome termasuk penyakit jiwa?

stockholmsyndrome.4
Buffalo ’66 (1998)

Stockholm syndrome digolongkan sebagai trauma. Beberapa orang mengalami trauma setelah setelah kejadian buruk seperti penculikan, penyanderaan, perang, dan kejadian lainnya. Ada trauma mental yang dinamakan Post Traumatic Stress Syndrome (PTSD), ada yang dinamakan Post Traumatic Amnesia, dan lain-lain.

Stockholm Syndrome merupakan jenis trauma yang merupakan hasil dari mode bertahan hidup yang gagal.

Selama mengalami penyandraan, saat pikiran mereka masih cukup jernih untuk merasa takut. Mereka hanya akan diam dan berusaha agar penculik tidak menyakitinya atau bahkan membunuhnya. Tawanan pastinya berada di bawah ancaman dan mengalami kekerasan secara fisik mau pun mental. Hal ini membuat tawanan untuk patuh dengan penyandra untuk bertahan hidup.

Seiring berjalannya waktu, emosi penculik pastinya naik turun sesuai dengan stress yang ia alami. Perubahan emosi penculik juga akan mempengaruhi tingkat ketakutan tawanan. Tawanan pun berkembang dari sikap yang hanya menurut menjadi ingin membuat tenang sang penculik agar tidak terlalu emosional.

Secara tidak disadari, hal ini akan menyebabkan komunikasi dan hubungan terjadi diantara tawanan dan penculik. Dalam keadaan stress, terisolasi, dan tingkat kewarasn yang semakin menurun, tawanan akan menurunkan mode bertahannya dan mulai terbiasa dengan hubungannya dengan sang penculik.

Bahkan tindak baik sepele seperti memberi makan, minum, dan memberiakan tawanan hidup akan dianggap perbuatan baik.

Menimbulkan Hubungan Romantisme Yang Tidak Sehat

stockholmsyndrome.1
The Beauty And The Best (2017)

Manusia adalah makhluk sosial, komunikasi merupakan hal esensial bagi setiap manusia agar bisa hidup normal. Dalam kasus penyaderaan yang berlangsung hingga bertahun-tahun, hal ini akan menimbulkan komunikasi dan interaksi tidak sehat antara penculik dan tawanannya.

Tawanan akan merasa terbiasa dengan kondisinya sebagai tahanan rumah yang tidak bisa keluar rumah dan bersosialisasi. Bukan berarti ia merasa tidak membutuhkan sosialisasi, ia merasa bersosialisasi dengan sang penculik sudah cukup baginya.

Tawanan mulai menjalani pola hidup yang tidak sehat. Secara tidak sadar, ia masih hidup dalam trauma dan tekanan, serta masih mencoba untuk bertahan hidup. Namun dimanifestasikan dalamĀ  tindakan yang salah. Yaitu menurut dengan sang penculik karena rasa takut.

Beberapa kasus penyadaraan yang terjadi bertahun-tahun membuat sang tawanan dan penculik menjalin hubungan romantis. Namun dasar cinta yang tidak berasal dari kepercayaan dan kasih, melainkan rasa takut.

Tawanan merasa takut terhadap penculik jika melakukan pemberontakan atau melarikan diri. Sementara penculik pastinya selalu waspada agar tawanan tidak kabur, membuatnya melakukan hal baik agar tawanan tetap merasa nyaman. Meski berasal dari motivasi yang salah, perasaan cinta dan simpati bisa muncul di antara hubungan yang terjadi secara terus menerus.

Hal ini tentunya tidak sehat bagi kedua belah pihak yang akhirnya merasa mereka menjalin hubungan yang normal selama masing-masing tetap terjaga emosinya.

Kasus Natascha Kampusch

stockholmsyndrome.3
3096 Days (2013)

Satu lagi fenomena stockholm syndrome yang pernah tercatat adalah kasus penyaderaan Natascha Kampusch pada tahun 1998 di Vienna, Austria. Natascha diculik oleh Wolfgang Priklopil pada tahun 1998 ketika ia masih berusia 10 tahun.

Natascha mengalami penyekapan di rumah Wolfgang selama 8 tahun. Natascha mengalami berbagai tindak kekerasan dan selalu diancam jika berani mencoba untuk kabur. Ia boleh berkeliling rumah, dan Wolfgang memyuruhnya melakukan berbagai pekerjaan rumah dan memasak untuk mereka.

Banyangkan hal tersebut terjadi selama 8 tahun dan ia masih dibiarkan hidup oleh sang penculik. Tingkat ketakutan tawanan pun semakin menurun karena ia merasa baik-baik saja. Namun, tanpa di sadari mereka sedang menjalin hubungan yang tidak sehat di dasari rasa takut dan pembenaran diri.

Hingga pada tahun 2006, Wolfgang melakukan bunuh diri dengan loncat ke rel kereta ketika sedqang ada kereta melaju. Natascha pun diselamatkan oleh aparat dari rumah Wolfgang, saat itu ia sudah berusia 18 tahun. Tidak merasa lega, Natascha justru menangis dan merasa terpukul mendengar kabar kematian Wolfgang. Ia bahkan mengatakan bahwa Wolfgang Priklopil adalah sahabat satu-satunya selama beberapa tahun belakang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.