6 Inovasi Teknologi Google yang Dianggap Gagal

Inovasi Google dalam Bidang Teknologi yang Dianggap Gagal
Inovasi Google dalam Bidang Teknologi yang Dianggap Gagal

Kosongan – Sejak didirikan pada 1998 lalu, Google menjelma menjadi raksasa teknologi dunia. Tidak terhitung berapa banyaknya teknologi-teknologi baru dari Google setiap tahunnya. Pun tidak sedikit pula dari inovasi teknologi Google yang membantu manusia beraktifitas. Misalnya, Google Search yang sobat kosongan gunakan untuk menemukan artikel ini.

Dengan merilis smartphone Pixel dan berbagai perangkat keras lainnya, Google menasbihkan diri sebagai produsen perangkat keras juga. Dengan begitu, lengkaplah semua inovasi yang Google miliki, yaitu di lini perangkat lunak dan perangkat keras.

Namun pada kenyataannya, tak semua inovasi yang dilakukan Google berhasil. Ada beberapa inovasi teknologi yang pernah dijanjikan akan hadir tetapi gagal terwujud, ada juga yang benar-benar terwujud namun performanya tidak sesuai harapan. Berikut ini adalah beberapa inovasi dalam dunia teknologi yang pernah dijanjikan oleh Google namun dianggap gagal karena tidak tidak sesuai harapan atau bahkan tidak terwujud.

Inovasi Google dalam Bidang Teknologi yang Dianggap Gagal

AI yang bisa menghapus objek foto

Dalam perhelatan tahunan Google I/O 2017 lalu, Google memperkenalkan sebuah artificial intelegent atau kecerdasan buatan yang secara ajaib  mampu menghapus sebuah objek di dalam foto. Waktu itu Google memamerkan inovasi teknologi tersebut dengan cara menampilkan sebuah foto berisi seorang anak bermain bisbol dan terhalang oleh sebuah pagar. Teknologi kecerdasan buatan tersebut kemudian mampu untuk dapat menghapus gambar objek pagar yang menjadi latar depan si anak. Namun hingga saat ini, teknologi canggih tersebut belum dirilis oleh Google dan tidak diketahui bagaimana perkembangannya.

Google Allo

Google Allo merupakan aplikasi chatting yang diperkenalkan pada ajang Google I/O 2016. Pada waktu itu Google Allo boleh dibilang cukup menghebohkan dunia perchattingan. Pasalnya, pada waktu Google menjanjikan fitur-fitur nan menarik pada Google Allo ini dan bahkan disebut-sebut akan menjadi layaknya iMessage dari Android. Google memang telah merilis Google Allo. Namun setelah diluncurkan, Allo ternyata justru mengundang banyak kritikan. Google Allo disebut tidak sesuai ekspetasi dan tidak seperti yang Google janjikan di awal perkenalannya. Bahkan, Google Allo tidak jadi menggunakan fitur-fitur yang dianggap penting, misalnya seperti fitur dukungan SMS. Baru-baru ini pun akhirnya Google memutuskan untuk sekalian  menunda proyek tersebut dan mengaku kini sedang berfokus pada pengembangan aplikasi chatting baru.

Doze

Doze adalah sebuah fitur penghemat baterai pertama kali diperkenalkan pada perhelatan Google I/O 2015 lalu. Fitur ini pertama kali muncul pada Android M. Doze bisa dibilang sebuah mode yang memiliki kemampuan untuk memperkecil konsumsi daya baterai saat smartphone berada dalam kondisi standby. Meskipun terdengar keren, namun fitur ini justru mengundang banyak kritikan di dunia maya. Pasalnya, pengguna merasakan tidak adanya perubahan sama sekali saat mode tersebut diaktifkan dengan saat mode tersebut dimatikan. Menurut mereka, baterai smartphone tetap terkuras meski dalam keadaan standby. Doze pun dianggap sebagai fitur penghemat baterai yang gagal total. Bahkan tahun ini Google pun sepertinya akan menghapus fitur tersebut dan menggantinya dengan mode Adaptive Battery yang diklaim akan lebih efisien dibanding Doze.

Google Now on Tap

Teknologi Google Now on Tap juga pertama kali diperkenalkan pada ajang Google I/O 2015 lalu dan muncul pada Android M. Google Now on Tap diklaim mampu memindai layar smartphone pengguna kemudian menampilkan informasi berhuungan dengan apa yang tengah ditunjukkan dalam layar tersebut. Fitur yang menjanjikan ini sempat Google gadang-gadang sebagai teknologi yang akan memudahkan pengguna dalam mencari informasi. Meskipun begitu, namun pada kenyataannya fitur Google Now on Tap dianggap tidak terlalu berguna. Pengguna lebih suka untuk mencari informasi secara manual lewat mesin pencari Google daripada menggunakan fitur Google Now on Tap.

Google TV

Tahun 2010 lalu, Google mencoba peruntungannya di industri perangkat rumah cerdas dengan mengeluarkan smart TV. Bekerja sama dengan Intel, Sony, dan Logitech, Google TV generasi pertama terlahir pada Oktober 2010. Di generasi selanjutnya, Google bekerja sama dengan LG, Samsung serta Vizio. Bahkan, Google juga merilis Asus Cube sebagai generasi terbaru Google TV. Namun pada kenyataannya, bahkan nama-nama tersebut tidak sampai diketahui masyarakat luas. Google TV bukan dianggap gagal karena memiliki performa yang buruk, namun karena kompetitornya jauh lebih baik. Produk-produk seperti Apple TV, Roku, dan Xbox 360 adalah perangkat yang lebih dicari oleh masyarakat dibanding smart TV milik Google tersebut. Pada akhirnya Google TV berhenti diproduksi di tahun 2014.

Google Glass

Beberapa waktu lalu, Google juga sempat mencoba peruntungannya dengan merambah industri aksesoris canggih atau wearable. Meskipun begitu, Google sepertinya kurang beruntung. Didesain futuristik layaknya kacamata dalam film fiksi ilmiah, Google Glass tentu akan sulit diterima masyarakat. Sejak awal rilis, sebenarnya Google Glass tak memiliki kompetitor. Namun kini Snapchat mengeluarkan Spectacles, kacamata canggih yang dapat merekam video. Dengan fitur seperti itu, tentu Spectacles akan lebih laris di masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.