5 Alasan Live Action Anime Sebetulnya Tidak Perlu Diproduksi

liveactionanime.3
Kakegurui (2018)

KosonganLive action anime adalah sebuah serial maupun film yang dibuat dan diadaptasi dari serial anime 2D. Bagi kamu yang menyukai budaya Jepang dan merupakan otaku sejati, pastinya telah menonton banyak anime terbaik dan legendaris yang pernah dibuat. Tak sedikit dari dari anime-anime tersebut kemudian diangkat menjadi versi live action yang dimainkan oleh aktor dan aktris Jepang dalam layar lebar. Kebanyak anime yang menuai kesuksesan menjadi target dari industri perfilman Jepang bahkan Hollywood.

Namun, apakah sebetulnya setiap anime sukses perlu mendapatkan versi live action? Coba tanyakan pada dirimu sendiri sebagai penggemar anime. Jika anime favoritmu diangkat menjadi film live action, apakah hal tersebut adalah anugrah atau malah bencana. Nyatanya, jarang versi live action anime berhasil menandingi anime originalnya. Beberapa film live action bahkan dikecam oleh para penggemar setia anime tertentu. So, simak penjelasan berikut tentang alasan mengapa anime tidak perlu dibuatkan versi live action-nya.

5 Alasan Live Action Anime Tidak Perlu Diproduksi

1Adaptasi Karakter Kurang Maksimal

Black Butler (2014)

Salah satu kelebihan serial anime adalah desain karakternya yang menarik dan esentrik. Beberapa karakter anime bahkan memiliki ketampanan dan kharisma hanya melalui sebuah desain karakter dalam bentuk 2D. Media anime membuat kreatornya dengan bebas dan liar menciptakan sebuah karakter yang menarik dalm bentuk fisik, suara, hingga sifat dan tingkah lakunya.

Ketika masuk ke produksi film live action, hal ini akan mempengaruhi casting pemainnya. Tidak boleh sembarangan, tim casting harus bisa menemukan aktor atau aktris yang sesuai dengan karakter anime yang imaginatif. Asal comot pemain hanya akan merusak karakter yang ingin ditampilkan. Salah satu contonhya adalah Ciel dari Black Butler yang dimainkan oleh aktris Ayame Goriki di versi live action Black Butler. Karena mungkin crew film tidak berhasil menemukan aktor pretty boy seperti Ciel. Casting pemain jadi tidak maksimal.

2Realisasi Dunia Imajinasi Yang Kurang Totalitas

Attack On Titan (2015)

Dalam media anime, kreator juga lebih bebas menciptakan dan menggambar dunia impian mereka, hal ini cenderung untuk anime dengan genre fantasi yang memiliki setting dunia fantasi. Kebanyakan film live action tidak terlalu memiliki budget yang besar sehingga realisasinya pun tidak maksimal. Mulai dari properti hingga efek GCI yang kurang mutakhir.

Hal ini juga terkadang membuat pembuat film live action menurunkan sedikit standar originalitas latar film. Hal ini pastinya akan merusak dunia imajinasi yang telah ada melekat pada para penontonnya dari versi anime originalnya. Kalau memang tidak mampu, seharusnya tidak dibuat sama sekali.

3Cerita Yang Banyak Terpotong

The Last Airbender (2010)

Beberapa film live action hanya berdurisai selama sekitar 60 menit atau paling lama 2 jam. Hal ini membuat penulis naskah harus bekerja keras untuk merangkum paling tidak 12 episode dari sebuah serial anime, beberapa anime bahkan lebih dari 12 episode. Padahal setiap anime memiliki makna cerita di setiap episodenya dan tidak bisa dihilangkan begitu saja. Namun karena jatah dan ambisi pembuat film, anime yang sudah sempurna dan pas komposisinya harus dirangkum menjadi sebuah film berdurasi sekitar satu jam saja.

Di sini akan banyak hal yang harus dikorbankan dan membuat film justru berantakan. Mulai dari pengembangan karakter yang pastinya dipercepat dan tidak tampak natural, hingga pengembangan alur cerita yanga akan kehilangan banyak adegan inti seperti pada serial animenya.

4Merusak Pandangan Penonton

Kakegurui (2018)

Film live action anime bisa berdampak pada reputasi kisahnya dihadapan para penonton. Dari penonton setia animenya atau penonton awam. Beberapa anime yang sebetulnya memiliki kualitas bagus jadi tampak murahan dan tidak menarik ketika dibuat versinya dan ditonton oleh para penonton non-otaku. Sementara bagi para penonton anime setia, dunia imajinasi yang selama ini sudah bagus dan pas menjadi berubah karena versi live action yang berubah drastis. Mulai dari desain karakter, latar, hingga alur cerita.

Karena tidak bisa dipungkiri, banyak karakter ini yang menjadi idola dan “disakralkan” oleh para penggemarnya. Dan mereka sudah cukup puas dengan idola dalam bentuk 2D. Mewujudkan karakter favorit mereka menjadi manusia dengan aktor yang tidak sesuai hanya akan membuat geram dan mempengaruhi kritik tentang film tersebut di media.

5Jalan Cerita Sudah Tertebak

Death Note (2017)

Salah satu alasan paling kuat mengapa anime tidak memerlukan versi live action karena jalan ceritanya sudah tertebak. Apa yang diharapkan seorang penonton ketika menonton film? Unsur paling penting adalah kualitas dan bobot dari jalan ceritanya. Kalau akhir ceritaya sudah ketahuan buat apa ditonton? Mengubah jalan cerita pun merupakan tindakan bunuh diri bagi para crew film. So, buat apa diproduksi? 

Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa para penggemar anime mungkin ingin melihat dunia imajinasi dan karakter favoritnya dalam wujud dunia nyata. Sebetulnya kepuasan tersebut sudah bisa didapatkan cukup dengan datang ke acara cosplay. Banyak para cosplayer yang bahkan bisa tampil dengan properti dan makeup lebih bagus dari pada desain karakter pada film live action anime.

Itu tadi beberapa alasan mengapa live action anime tidak perlu diproduksi. Proyek film seperti pada umumnya hanya memiliki motivasi komersial. Buktinya hanya anime dengan rating dan pendukung banyak ‘lah yang diangkat menjadi live action. Mungkin mereka juga memiliki tujuan untuk menhidupkan dunia 2D menjadi lebih nyata di mata penggemarnya. Sebetulnya sah-sah saja, namun ada baiknya diproduksi dengan maksimal dan tidak setengah-setengah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.